.... Me & mY FaiRyTales ....

Wednesday, March 05, 2008

Menjaga Hubungan Baik Orangtua dengan Anak

Pendidik dan guru pertama dan utama bagi anak sebenarnya bukan guru di sekolah, tetapi orang tua. Ahli ilmu jiwa anak dan tokoh-tokoh
pendidikan anak sering mengatakan, bahwa salah satu hal yang perlu dilakukan oleh orang tua dalam usaha memberikan pendidikan yang baik kepada anak ialah membina hubungan emosional orang tua dan anak, yang perlu dilakukan sejak anak masih bayi.

Salah satu manifestasinya berupa sentuhan, belaian, pelukan, ciuman dan berbicara dengan anak. Bila bertambah usia anak, komunikasi lisan pun bertambah penting.
Dengarkanlah pendapat dan perasaan yang dikemukakan anak. Anak akan merasakan bahwa orang tua mempunyai perhatian terhadap dirinya, mencoba memahami dirinya, sehingga ia pun terlatih untuk mengutarakan perasaan dan pendapatnya. Maka penting bagi orang tua untuk melatih diri sendiri menjadi pendengar yang baik. Orang tua cenderung berbicara dengan anak dan mulai menayakan "mengapa" atau "kapan".
Atau cenderung berbicara dengan nada perintah, marah atau menggurui. Mengapa sayurnya tidak dimakan? Ayo kerjakan peernya sekarang! Kapan
kamu belajar untuk mendengarkan nasehat mama? Dan adakalanya ayah baru berbicara kepada anaknya, menasehatinya panjang lebar bila si anak
telah membuat suatu kesalahan.
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan memojokkan si anak sehingga dia akan membela diri atau diam. Tetapi jika pertanyaan-pertanyaan itu
dimulai dengan "Apa" atau "Bagaimana". Apa yang kamu kerjakan tadi ? Bagaimana disekolah tadi? Maka pertanyaan itu akan membuka anak untuk
bercerita. Dan agar komunikasi orang tua anak dapat berlangsung dua arah, maka orang tua pun harus pula bisa mengeluarkan perasaannya. "Ibu senang nilaimu baik di sekolah". "Ayah bangga kepadamu."

Ada baiknya jika orang tua sengaja menyediakan waktu setiap hari bagi anak atau menciptakan suatu kebiasaan bersama anak, sehingga anak tahu
bahwa ada waktu khusus di mana orang tuanya ada. Membina hubungan intim dengan anak memerlukan latihan dan seyogyanya dimulai sejak anak
masih kecil. Hubungan menjadi sulit bila pembinaan baru dimulai pada waktu anak sudah besar atau sudah mulai remaja.

Dr. Matti Gershenfeld, seorang prikolog dari PhiladelhiaTemple University memberi rumus yang dapat menjadi pengangan bagi orang tua yang ingin meningkatkan kualitas hubungan orang tua anak. Ada empat faktor yang perlu diperhatikan yaitu:
· Secara fisik berdekatan dengan anak
· Adanya kontak mata
· Belaian
· Komunikasi lisan

Prinsipnya ialah suatu informasi akan lebih mudah ditangkap jika kita menerima informasi tersebut melalui lebih dari satu panca indera.
Bukankah kasih sayang itu juga merupakan suatu informasi yang ingin kita sampaikan kepada anak?

Coba kita bandingkan dua sikap ini. Bila tiba waktu tidur, kalau ibu hanya berteriak, "Ayo tidur! "atau", Selamat malam!" dari jauh, maka kesempatan itu akan lewat tanpa bekas. Lain halnya kalau ibu menemani anaknya masuk ke kamar tidur, duduk disebelah anak mencium keningnya
waktu mengucapkan, "Selamat tidur"! maka kegiatan si ibu merupakan tindakan menjalin hubungan intim dengan anak. Dr. Gershenfeld
mengatakan jika orang tua membiasakan memasuki keempat faktor itu dalam kegiatan sehari-hari, anak pun akan lebih mudah menangkap dan
merasakan kasih sayang orang tua. Bahwa setiap orang tua menyayangi anak-anaknya tidak bisa disangkal lagi. Tapi kasih sayang yang dipendam tidak ada gunanya. Kasih sayang itu perlu ditunjukkan secara sengaja kepada anak-anak, barulah si anak merasa disayang. Kalau hal
ini dicapai, maka kontak batin orang tua dengan anak mudah dijalin.

Kehadiran orang tua bersama anak tidak menjamin terjadinya hubungan emosi yang baik antara orang tua-anak. Misalnya, seorang ibu mengangkat bayinya yang sedang menangis sambil menimang-nimang, mencium dan membujuk dengan kata-kata. Si bayi tersenyum, ibu pun
tersenyum. Masing-masing saling menunjukkan perasaan senang. Maka terjadilah hubungan emosional. Tetapi jika pikiran ibu di tempat lain,
perhatiannya hanya tertuju agar ia dapat secepatnya mengganti popok bayi, agar bayi diam dan ia dapat kembali secepatnya ke dapur untuk
menyelesaikan masakannya, maka kualitas hubungan yang terjadi antara ibu dan anak itu dinilai buruk.

Monday, October 08, 2007

MY BETTER HALF FAMILY

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Monday, August 20, 2007

SUPERMOM


Menjadi superMom adalah bukan pekerjaan mudah, menyadang jabatan SuperMom adalah bukan hal yang terlalu menyenangkan. Namun saya bangga menjadi atau menyandang jabatan SuperMom, seperti halnya suami dan anak saya katakan.

Ini berawal dari sebuah buku 'hadiah' kecil yang sangat manis dan cukup bernilai untuk saya dari suami, buku berjudul "SUPERMOM, Sukses di rumah, sukses di kantor" karangan Kathy Buckworth. Kalau misalnya saja kalian para Ibu yang menjabat dua predikat sekaligus seperti saya, menjadi seorang pekerja di kantor dan juga sekaligus Ibu rumah tangga, kamu pasti tidak akan pernah berhenti tertawa membaca buku ini. Bukannya saya berniat ingin mempromosikan buku ini, tapi sejenak saja baru satu kalimat tertulis di buku itu, saya seperti benar2 'berkaca' bahwa isi buku itu adalah BENAR semuanya tentang saya, hingga suami dan anak tertua saya terpingkal-pingkal dibuatnya membaca sekutip kalimat di buku itu. Saya sendiri baru membaca buku itu sampai dengan halaman 20 saja, tapi serasa semua itu mewakili jati diri saya yang sesungguhnya.

Menjadi SuperMom adalah sesuatu yang BERAT tapi juga MENYENANGKAN. Bayangkan, faktanya dalam satu waktu saya harus mengurus 3 anak dan juga kebutuhan suami sekaligus, belum lagi tetek bengek tentang 'rumah' dan seisinya, walaupun saya dirumah juga dibantu oleh seorang 'assistant', namun tetap saja semua berujung pada panggilan "Mommy!!". Di satu sisi yang lain, tanggungjawab terhadap pekerjaan di kantor dalam hal ini adalah Bos saya, juga begitu. Untungnya selama ini Bos saya selalu rendah hati untuk memberikan 'keringanan' dan 'pengertian' yang menurut saya sangat berlebih, hingga pada suatu ketika saya merasa bahwa saya bukan professional yang sesungguhnya saya harapkan.

Satu contoh kasus, dimana saya tengah menghadapi anak yang sakit..tentu saja ini adalah hal yang biasa bagi seorang Ibu Rumahan, tapi untuk seorang Ibu Pekerja atau SuperMom (disebutkan) seperti saya, adalah cukup 'belibet' dalam membagi waktu. Di saat yang sama, anak saya selalu meminta perhatian supaya sang Mommy yang mengurus, merawat, minta di suapi, minta di minumkan obat, hingga dia terlelap tidur, dan ingin pada saat dia bangun..dia melihat saya ada di sampingnya. Itu yang biasa di tuturkan anak-anak saya apabila mereka jatuh sakit sekalipun mereka dalam keadaan sehat namun sedang berusaha untuk mencari perhatian dari sang Mommy (kata suami saya). Di luar sana, tanggungjawab terhadap pekerjaan di kantor dan si Bos juga sedang menunggu kehadiran saya. Saya juga tidak mungkin meninggalkan tanggungjawab yang sudah selayaknya saya jalankan dan saya emban. Tidak masuk atau absen seharian buat saya itu adalah hal yang Merugi bagi diri saya, rasanya seharian penuh saya ini akan terus di selimuti rasa bersalah yang berkepanjangan seharian..dan menganut sitem Buah Simalakama. Kalau saya tidak 'bersekolah' (ini istilah suami dan anak2 untuk KANTOR), saya merasa di kejar2 perasaan bersalah tidak menjalankan tanggungjawab sebagai seorang Pegawai, apalagi ditambah meninggalkan peran 'Personal Assistant' bagi Bos saya, rasanya seperti memiliki hutang kepadanya, apalagi Bos saya itu benar-benar tau bagaimana peran saya sebagai Ibu dari 3 anak dan seringkali betul-betul terkesan berusaha memberikan pengertian juga kelonggaran untuk urusan pribadi saya, yang seharusnya saya harus cermat dan cerdik untuk bisa memilah2 kepentingan. Pada akhirnya, keputusan atas kondisi tersebut yang saya ambil adalah berusaha FAIR semaksimal mungkin. Lagi-lagi minta pengertian si Bos bukan untuk absen seharian mengurus anak, tapi justru minta kelonggaran waktu untuk datang ke 'sekolah' sedikit terlambat dari jam kantor normalnya. Di situ saya bisa mengambil hati dan cukup 'menyenangkan' hati anak saya supaya dia merasa di perhatikan pada saat dia membutuhkan kehadiran saya di saat dia sedang sakit. Terkadang saya juga merasa harus 'membayar' keterlambatan saya datang 'sekolah' dengan pulang agak sedikit melewati usai jam kerja. Kalau sudah begitu rasanya PLONG....fiiiuh.

Pekerjaan suami menjadi seorang Konsultan IT yang hingga pada saat ini belum terikat oleh suatu instansi swasta dan atau Pemerintahan, cukup membantu peran saya sebagai seorang SuperMom. Pasalnya beliau ini sih bisa bekerja dimana saja, sepanjang di 'lokasi' terdapat koneksi Internet. Nha kebetulan di rumah tersedia fasilitas i-Net, jadi apabila dia tidak memiliki janji di luar dengan Relatives-nya, dia sesekali 'ngantor' di rumah sembari menjabat sebagai Bapak Rumah Tangga hehehehe... Thanks to you, Pap! Tapi yaa itu..ujung2nya pasti berlari ke kalimat "Mommyy..!!!"

Banyak teman bilang, bahwa saya belum saja merasakan bagaimana sulitnya pada saat mengurus anak sedari bayi. Bagaimana tidak bisa saya bayangkan tentang hal ini, pasalnya di rumah orangtua yang kebetulan hanya berjarak beberapa rumah dari situ saja ada 2 (dua) bayi dan biasanya saya dan kakak2 saya juga saling Bantu mengasuh. Jadi saya tau betul bagaimana ‘ribet’nya mengurus baby sedari mereka2 itu masih ‘merah’, bahkan dulu waktu adik kembar saya lahir saja, saya sudah terbiasa dengan mengganti popok dan membilas e-e-nya tanpa rasa jijik. Justru bisa di bayangkan bagaimana effort dan perhatian ‘extra’ terlebih untuk anak perempuan saya yang paling besar yang saat ini menjabat predikat ABG, mengingat pergaulan di Jakarta saat ini sudah mulai kompleks dan setiap saat saya selalu di liputi oleh perasaan cemas dan ketakutan akan efek pergaulan yg menakutkan. Saya sendiri lebih memilih untuk anak saya tidak bergaul di Mal-mal dan pergi2 keluar tanpa pengawasan dari saya ataupun suami. Mau di bilang gaul..??? it doesn’t mean musti maksain gaya jaman skarang bukan…?? Kekekekek:p

Being a SuperMom...it is just unbelievable, more great than any Happiness ever!

Tuesday, June 12, 2007

Sepotong Roti Kebahagiaan

"Mentari pagi indah berseri, ini awal kehidupan kita..."
Sepotong background lyrics dari iklan Susu Ultra jaman jadul dulu..seakan mewakili perasaanku setiap pagi aku terbangun dari tidur.
Setiap pagi itu adalah hari yang baru bagi hidupku.

Beda banget kehidupanku dulu sebelum dan sesudah aku menikah dan punya anak. Dulu gak ada bedanya dengan pribadi yang egois, dan melulu hanya memikirkan diri sendiri juga gak lupa happy2 terus, bahkan aku sendiri gak pernah ngrasa adanya pasang surut dalam hidupku, semua datar-datar aja alias monoton. Pulang kantor malam, pacaran, jalan sana sini, sesekali dugem, dan pulang kadang sadar kadang gak hwehehehe...tapiiii itu dulu bos! Entah kenapa seakan hidup gw di puter 180 derajat, DRASTIS! Dan semua terjadi begitu cepat...ketemu lagi dengan sahabat lama (partner bisnis dulu sih jujurnya), pacaran, menikah, lalu langsung punya anak-anak2 yang konyol2 tingkah polahnya.

Kamu tidak akan pernah menyadari bahwa hidupku ini sudah seperti layaknya di remote, tinggal 'klik' langsung segalanya berubah. Dan kamu juga tidak akan pernah menyadari bahwa justru membentuk keluarga dan juga merekalah yang membantu kehidupanku ke arah yg lebih baik, bahkan sangat jauh lebih baik dari sebelumnya.

Suami yang sangat extra perhatian, menjaga ketat kehidupanku dari aku bangun sampai aku bangun lagi..bahkan aku sama sekali tidak pernah merasa bahwa ini adalah siksaan dimana kehidupan sosialisasiku seakan dibatasi. Justru sebaliknya ini yang membuat dirinya begitu berbeda dengan yang lain, dan menurutku begini caranya dia mencintaiku. Anak-anak yang lucu dan dengan berbagai polah tingkah mereka yang berbeda-beda namun tetap konyol, membuat hidupku semakin berwarna. Capek, letih, dan terkadang kesal itu pasti ada; satu dari sebahagian tanggungjawab menjadi seorang istri dan ibu..pasti ada susah dan senangnya. Sialnya, aku sendiri hingga saat ini sangat MENIKMATI kesusahan dan kesenangan itu sendiri.

Ribut kecil-keciln dalam rumah tangga bagiku dulu adalah nightmare, sesuatu yang paling aku benci dan hal yg paling aku takuti, berlari untuk sekedar mencari pembenaran dan juga backingan tempat mengadu, tapi justru semakin hari malah semakin aku sadari bahwa itu adalah salah! Sebaliknya justru pasangan kita-lah yang sangat mengerti dan tau betul tentang kita berdua dan justru dia-lah tempat kita harus berbagi, even itu adalah sesuatu hal yg menyebalkan harus bargain dan gontok-gontokan saking menjaga egoisme satu sama lain.

Buat aku dan suamiku sendiri, untunglah kita gak mengenal kata ‘egois’. Bertengkar 1-2-3 kali cukup dalam kurun waktu beberapa menit saja, sekecil atau sebesar apapun masalah itu, dan setelahnya tempat tidur adalah sarana yang cocok untuk melanjutkan ‘pertempuran’ itu hwekekekekekek. Cobaaaaa…gimana hidup itu gak nikmat?! :D

Godaan dalam rumah tangga itu pasti ada, baik dari diriku maupun suami, tapi justru lebih banyak dari sisi-ku. Tapi aku merasa sangat bersyukur, setelah KEMBALI mengingat perjalanan hidup kami yang penuh dengan lika liku dan pengorbanan yang begitu besar juga komitmen yang kita jalin bersama setiap detik nafas kami, aku dan suamiku tak pernah gentar menghadapinya…apapun itu bentuknya!

Haduuuuh kalo di ingat-ingat banyak banget dan hingga saat ini masih aja ada orang yang mau berniat jahat untuk bisa menjadi benalu dan mencoba meretakkan kehidupan kami berdua, dengan cara yang tentunya berbeda-beda. Sialnya, kita berdua memang gak pernah ada waktu untuk mengurusi tetek bengek macam banci kaleng seperti itu hahahaha…..too bad so sad…

Intinya, aku sangat BAHAGIA dan berSYUKUR

Thank you Didien, there’s no happier thing in this life than be proud to be your beloved wife..ever.

Thank you kids, Diedra, Dinda, Dilla… you make mommy’s life so colorful and make me being a great Mom by each day. Thank you so much …..

*happiness tears drop mode on*

Wednesday, May 30, 2007

BANCI FOTO...???

Thursday, April 12, 2007

STPDN....IPDN...Whatevaah!

IPDN : Institut Para DAJAL Nasional Kampus BERADAB nanum BIADAB Institut TERKUTUK penebar MAUT Banyak SeNiOr PENGECUT, tersulut oleh KABUT KALUT Mereka semua PENAKUT Karena urusan PERUT, Takut SK diCABUT Akhirnya...... CARUT-MARUT ACAK-ADUT BAU KENTUT, Brut...Brut..Brut
Civitas Akademika yang berisi Denawa-Denawa MURKA Tak paham PANCASILA...sila ke-DUA Gentayangan mencari MANGSA...dengan dalih PEMBINAAN Calon PENGUASA yang tidak PEKA Hanya akan membawa MALAPETAKA bagi BANGSA
Hai...kalian para SeNiOr IPDN, jago kandank doank... Jangan mentang-mentang kalian SeNiOr AROGANSI kalian...menciptakan DENDAM KESUMAT umat Perbuatan LAKNAT yang membawa KIAMAT Bersiaplah menerima AZAB yang nikmat di AKHERAATTT...

IPDNku Sayang...IPDNku Malang
IPDNku Sayang...IPDNku Malang
Anak Bangsa SENGSARA karena DIDERA
Bagai ROMUSA di pentas PRAJA MURKA
Kawah Candra dimuka dibelenggu SIKSA Arena PENGUASA mencari MANGSA
IPDNku Sayang...IPDNku Malang
Kampusku, Bangsaku Kampusku, Rumahku Kampusku,
Masa Depanku Kampusku, Kematianku

IPDNku Sayang...IPDNku Malang Banyak arwah melayang...
gentayangan Mencari masa depan yang HILANG.....
tinggal kenangan dan bayang-bayang
Kasihan...kasihan... IPDNku Sayang...IPDNku Malang
Aku dengar JERITMU dari sini, aku dengar...
Aku dengar TANGISMU dari sini, aku dengar...
Namun, aku hanya bisa SEDIH, aku hanya bisa MARAHH..
Selaksa DO’A penjuru nusantara kusampaikan
IPDNku Sayang...IPDNku Malang Esa hilang, dua terbilang...
Esa hilang, dua terbilang...
Jangan mentang-mentang, jangan jago kandang
Patah Tumbuh hilang Berganti...
Karma bersimpuh suatu saat nanti

*Uuuuuuuuurrrggg... enak kali yah mandiin mereka pake AER KERAS...byur byur*

Friday, March 16, 2007

TEARS & JOY



Hidup gw ini lucu banget yah,
antara bahagia, konyol, dan tentu saja barokah..
Suami gw yang sangat mencintai gw dengan amat sangat..dan juga anak-anak yang konyol dan lucu-lucu, polah tingkah mereka bener-bener ngebuat hidup gw semakin berwarna. Even beberapa minggu kemarin gw sempet rada 'depresi' gara-gara kelakuan mereka semua, tapi tanpa gw sadari semua itu adalah proses pembelajaran diri gw sebagai istri dan ibu untuk gw bisa lebih wise dalam menghadapi dan menyikapi tentang segala hal yang berhubungan dengan suami dan anak-anak..

Suami gw yang sangat overprotective, tentu saja tadinya bener-bener ngeganggu ruang gerak gw untuk gw bisa bersosialisasi. Kemana-mana kudu laporan kenegaraan *gw sih juga memberlakukan itu hwekekek*, ke Mall musti di kawal sama si sulung - Nyon, ke salon tentu saja dengan misua tercinta, apalagi niy yang namanya mau ketemu temen-temen atau gank lama, itu wajib dengan dia. Annoying banget ga siy?? TADINYA!!! Yup it was!, TAPIIII...ternyata kami menyadari satu sama lain terutama GW baru menyadari bahwa suami gw bersikap kaya begitu bukan karena ingin membatasi ruang lingkup sosial gw, tapi karena sayang dan cinta juga menghindari prasangka ini itu terhadap satu sama lain. Pasalnya masa lalu gw dan dia yang 'njedotin' kepala kita. Laki gw punya masa lalu yang gak enak buat di simak, sedangkan gw memiliki pergaulan yang ayalnya dulu gak banget. Walau memang tadinya 'rejected' atas sikap laki gw, tapi justru sekarang gw sangat sudah terbiasa dan menikmati, dan justru malah bersyukur artinya dia mengharapkan gw agar bisa lebih berhati-hati dalam bergaul dan yang terpenting bisa jadi panutan anak-anak. Katanya niy, si sulung – Nyon bener-bener mengidolakan Mommy sebagai panutannya. Jadi yaa kayaknya gw juga musti jadi emak yang baik buat dia.

Anak-anak gw sendiri, dari yang Nyon, Dinda, dan Dilla TERNYATA mereka juga punya 'penyakit' yang sama. Sangat amat 'rejected' dan bener-bener jadi 'polisi' Mommy-nya, manakala gw akan pergi kesuatu tempat. Introgasinya udah ngelebihin polisi banget, mau kemana, sama siapa, dan mau apa..daaaan kenapa gak sama anak-anak, katanya hahahaha:)) *padahal siy konteksnya cuma mau ke Hero beli susu mereka* hwakakak:)). Sewaktu gw tanya kenapa mereka bersikap demikian, jawaban mereka simple and cukup ngagetin, "takut Mommy diambil orang, nanti Papi sama siapa?", begitupula pada saat gw menerima tugas yang mengharuskan gw out of town, seketika mereka itu panik dan berusaha mati-matian merengek dan mengancam supaya gw gak pergi..alasannya, "kalau nanti Mommy pergi, terus gak balik lagi, terus kita ini sama siapa??" hahahaha.... Tentunya gw antara pengen ngakak dan sedih banget. Mungkin ga ada yang bisa mbayangin and nyadar betul kenapa anak-anak itu sampe bisa bicara seperti itu? Psikologicnya niy mereka tertekan dan traumatis yang luar biasa, mereka ga mau ditinggal..selama ini yang mereka harapin adalah kasih sayang utuh yang didapet dari sosok Ayah atau Ibu, tapi mereka ngakuin sendiri bahwa mereka takut ditinggalkan. Setiap kali ada situasi dan kejadian seperti ini, dan ternyata batin gw bener-bener tersayat banget.

Makanya gw gak bisa jauh-jauh dari anak-anak *begitu juga mereka, menurut laki gw*. Setiap kali gw menghabiskan hari dengan suami tercinta, gw pasti selalu keingetan mereka, sampai-sampai laki gw cemburu beradh dibuatnya..hwakakakak...Kayaknya mereka ini bener-bener punya penyakit KTT satu sama lain dey alias Kecemburuan Tingkat Tinggi *taeyaaah gw bukannya GR loh, tapi ternyata emang bener begitu adanya*.